+62 331 337877 fk@unej.ac.id

fk2

Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Diponegoro Medical & Health Scientific Competititon (DMHSC) 2016, yang dihelat oleh Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang (1-4/9). Dalam ajang kompetisi yang mempertandingkan karya tulis mahasiswa Fakultas Kedokteran se-Indonesia ini, dari 17 tim yang masuk ke babak final, empat tim adalah utusan dari FK Universitas Jember. Pencapaian ini menjadikan FK Universitas Jember menjadi perguruan tinggi yang paling banyak meloloskan wakilnya dalam ajang DMHSC 2016.
Hebatnya lagi, pada kategori Karya Tulis Ilmiah, utusan FK Universitas Jember yang terdiri dari Hazmi Dwinanda Nurqistan, Dita Puspita, dan Amalia Nur Zahra meraih juara pertama. Sementara Ferry Fitriya Ayu Andika yang turun di kategori essay, berhasil membawa pulang juara kedua. “Semuanya tidak lepas dari hasil kerja keras kami belajar dan berdiskusi di Unit Kegiatan Mahasiswa Student Research Center Revolution yang menjadi wadah bagi mahasiswa FK Universitas Jember yang berminat dalam karya tulis ilmiah,” ujar Hazmi di kampus FK Universitas Jember (5/10).
Untuk diketahui, Student Research Center Revolution (SRCR) FK Universitas Jember kini menaungi 55 mahasiswa. Dalam kesehariannya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang penalaran ini aktif melakukan diskusi ilmiah dan rutin mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah bidang kesehatan di bawah bimbingan dr. Ancah Caesaria, Ph.D. “Di SRCR ada kewajiban bagi setiap anggotanya untuk mengajukan proposal untuk mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah. Lantas kami bahas bersama agar mendapatkan masukan dari kawan-kawan sesama anggota, termasuk karya tulis yang kami ajukan di DMHSC 2016 adalah hasil diskusi intens bersama kawan-kawan,” jelas Ayu, pannggilan akrab dari Ferry Fitriya Ayu Andika.
Dalam ajang DMHSC 2016, trio Hazmi, Dita dan Amalia mengajukan karya tulis ilmiah berjudul “DIPSCOL : Dipstick Special for E.Coli, Sebagai Alat Deteksi Dini Bakteri Escheria Coli Pada Penyakit Infeksi Saluran Kemih (ISK)”. Menurut Dita, ide tulisan ini berawal dari banyaknya kejadian ISK yang menyerang anak-anak. Jika sejak awal penyebab ISK diketahui, maka pengobatannya akan lebih mudah pula. “Jadi kami membuat alat pendeteksi dini untuk mengetahui sumber bakteri penyakit ISK, dimana penggunaannya semudah menggunakan alat deteksi kehamilan,” jelas Dita. Temuan mereka yang berupa alat tes untuk ISK diganjar juara pertama oleh juri.
Beda lagi dengan Ayu yang turun di kategori essay. Mahasiswi berjilbab ini tertarik pada terapi bagi anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini anak yang hiperaktif. Uniknya, Ayu menggunakan alat terapi berupa game yang bisa dimainkan di gadget. “Idenya berawal dari kesulitan yang diderita oleh para orang tua yang memiliki anak hiperaktif dalam memberikan terapi bagi anak mereka. Biasanya mereka menyerahkan kepada ahlinya, dan ini tentu saja memerlukan biaya yang tidak sedikit,” tutur Ayu.
Dengan game terapi anak hiperaktif buatannya, maka orang tua bisa memberikan terapi dengan mudah karena bisa dipasang di gadget seperti komputer, laptop atau telepon seluler. Game terapi bagi anak hiperaktif ide Ayu berisi enam permainan yang terdiri dari tebak nama, tebak jumlah, tangkap capung dan lainnya. Ide ini ditulis Ayu dengan judul “Game Terapi ADHD : Alternatif Terapi Perilaku Kognitif Penderita ADHD (Attention Defiat Hyperactivity Disorder) Sejak Dini”. “Anak hiperaktif biasanya tidak bisa berkonsentrasi pada satu kegiatan, nah dengan game ini, mereka dilatih untuk memusatkan perhatiannya. Dan yang lebih penting, membantu orang tua agar lebih dekat dengan anaknya karena permainan ini menuntut bimbingan dari orang tua. Sekaligus meringankan biaya untuk terapi,” kata Ayu lagi.

Sumber : fk.unej.ac.id

Related Post