+62 331 337877 fk@unej.ac.id

Pandemi Covid-19 di Indonesia telah bergulir sejak bulan Maret 2020, dan masih ada hingga hari ini. Kasus Covid 19 di Indonesia per 27 November 2020, mencapai 523 ribu kasus dengan penambahan kasus positif sebanyak 5.828. Di tengah negara-negara lain sedang memasuki gelombang kedua pandemi, Indonesia justru dari awal mula terjadi kasus belum ada tanda-tanda kurva melandai, dan itu tandanya, bisa jadi sebenarnya kita bahkan belum menyelesaikan gelombang pertama pandemi.

Langkah-langkah tracing dan testing yang telah dilakukan hari ini, nyata-nyata masih belum memenuhi target yang ditetapkan oleh WHO, dimana keberhasilan tracing dinilai dari Rasio Lacak-Isolasi (RLI) yaitu 1:30, dan testing dinilai dari kapasitas tes pcr perhari yang standarnya 1 : 1000 dengan positivity rate < 5%. Hari ini, RLI di Indonesia masih kurang dari 25 orang untuk setiap 1 orang yang terkonfirmasi, bahkan ada yang dibawah 5 orang untuk setiap 1 orang terkonfirmasi. Untuk testing di Indonesia, rata-rata baru 33.360 spesimen/hari selama sepekan terakhir, dengan rerata positivity rate masih 14,68%. Artinya, untuk testing sendiri, kemampuan kita untuk melakukan tes per harinya masih rendah, dan angka positivitasnya masih tinggi, sehingga data epidemiologi yang ada sekarang belum bisa dijadikan patokan. Oleh karena itu, perlu usaha yang lebih masif lagi untuk melakukan tracing dan testing kepada masyarakat.

Seperti yang kita tahu, bahwa tidak semua yang terinfeksi virus covid ini akan menampakkan gejala. Sebuah narrative review yang ditulis oleh Daniel P. Oran dalam Annals of Internal Medicine (September 2020), menyebutkan bahwa sekitar 40-45% orang yang terinfeksi virus SARS-Cov tidak mengalami gejala, atau asimptomatik, padahal mereka dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain. Karena itu, pemilihan alat tes yang benar di waktu yang tepat sangat memengaruhi interpretasi hasil dan tindakan lanjutan yang akan dilakukan kepada orang-orang tersebut.

Gambar 1 : Pola perjalanan penyakit COVID-19 secara umum

Saat ini, di Indonesia telah beredar beberapa jenis pemeriksaan untuk SarsCov-2, yaitu pemeriksaan PCR sebagai standar baku, pemeriksaan antibodi serologis, dan pemeriksaan antigen. Ketiga pemeriksaan ini memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda tentunya. Untuk memahami cara kerjanya, kita perlu melihat kembali pola perjalanan penyakit Covid19 secara umum seperti yang terdapat pada gambar 1. Dalam gambar tersebut, dapat kita lihat, dari hari pertama terpapar/terinfeksi, antibodi baru akan muncul pada hari ketujuh untuk IgM, dan akan meningkat titernya sekitar hari ke 13-14 infeksi, kemudian menurun. Sedangkan antibodi IgG baru dapat terdeteksi pada hari ke 9, mencapai puncaknya pada sekitar hari ke 14-15, dan akan cenderung menetap sampai 3 bahkan 7 bulan pada kasus tertentu. Berdasarkan hal tersebut, tentunya kita tidak bisa menggunakan pemeriksaan antibodi ini untuk menegakkan diagnosis, pemeriksaan ini hanya akan menunjukkan pasien tersebut sedang atau pernah terinfeksi covid 19 pada kurang lebih 3-7 bulan terakhir, dan sudah terbentuk antibodi atau kekebalan. Pemeriksaan antibodi ini bermanfaat untuk mendapatkan data populasi yang sudah memiliki kekebalan terhadap covid-19. Lain halnya dengan pemeriksaan antigen, dimana pemeriksaan ini dapat mendeteksi periode awal infeksi, sampai dengan kurang lebih hari ke 7 sejak muncul gejala atau hari ke 10 sejak paparan dengan pasien terkonfirmasi. Setelah periode ini terlewati, sensitivitas dari tes antigen ini akan menjadi sangat rendah dan tidak dapat digunakan lagi sebagai metode diagnosis. JIka dibandingkan dengan tes yang dijadikan sebagai standar diagnosis, yaitu PCR, tes antigen sama-sama mendeteksi keberadaan virus, namun memerlukan viral load yang tinggi, sehingga jika sudah menurun kadarnya tidak dapat digunakan sebagai acuan.

Gambar 2 : Penggunaan tes COVID-19 sesuai perjalanan penyakit

Rapid test
Pemeriksaan rapid test saat ini kerap kali digunakan di tengah masyarakat, yang sering kali merujuk pada satu jenis pemeriksaan saja, yaitu pemeriksaan antibodi. Padahal, istilah rapid test memiliki pengertian secara istilah adalah pemeriksaan cepat, sehingga tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan hasilnya. Untuk covid 19 sendiri, setiap pemeriksaan memiliki versi rapid testnya, baik pemeriksaan antigen, antibodi, ataupun PCR. Untuk rapid test PCR lebih akrab kita istilahkan dengan TCM atau tes cepat molekular. Untuk sensitivitas dan spesifitas masing-masing rapid test, tentunya kembali kepada dasar pemeriksaan yg dilakukan dan alat yang digunakan. Sehingga jika kita berkata rapid test, maka juga harus diperjelas, rapid test dalam pemeriksaan apa dan dalam fase yang bagaimana, supaya tidak salah dalam menginterpretasikan.

Rapid Test Antigen
Beberapa waktu terakhir ini, mulai dirilis rapid test untuk pemeriksaan antigen. Sebelumnya, tes antigen ini memang belum digunakan untuk pemeriksaan covid, lantaran masih dalam penelitian dan peninjauan terkait sensitivitas dan spesifitasnya. Akhirnya, pada tgl 11 September 2020, WHO merilis pedoman baru dalam penggunaan Rapid Test Antigen, yaitu boleh digunakan secara terbatas, pada fasilitas yang tidak dapat terjangkau pemeriksaan PCR, atau bilamana hasil pemeriksaan PCR sangat lama padahal sangat dibutuhkan untuk pengambilan keputusan klinis. Dalam hal tersebut, Rapid Test PCR boleh digunakan dengan ketentuan kit rapid test yg digunakan harus memenuhi standar sensitivitas >= 80% dan spesifitas >= 97% apabila dibandingkan dengan hasil pemeriksaan PCR.

Berdasarkan penelitian, rapid test antigen ini tidak direkomendasikan untuk dilakukan pada :

  • Orang yang terdiagnosis kontak erat dengan confirm case namun tidak memiliki gejala.
    Hal ini dikarenakan, pemeriksaan rapid antigen akan optimal jika dilakukan pada 2-3 hari masa inkubasi sampai 7 hari setelah timbul gejala. Jika tidak ada gejala, tidak dapat diinterpretasikan jika hasilnya non reaktif, apakah memang krn negatif, karena viral load yang tidak mencukupi, atau karena sudah melewati fase infeksi.
  • Tidak ada lonjakan kasus mendadak yg terjadi, atau hanya terjadi kasus yg sporadis.
  • Tidak adanya biosafety atau pengendalian dan prevensi infeksi di laboratorium yang memadai untuk melakukan prosedur pemeriksaan.
  • Pemeriksaan rapid antigen juga menggunakan prosedur swab nasofaring dan atau orofaring, sehingga perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, dan dianalisis melalui BSC yang memadai supaya tetap aman dan resiko infeksi dapat terkontrol.
  • Hasil tidak berpengaruh terhadap keputusan klinis dan manajemen pasien.
  • Skrining donor darah, serta untuk skrining di entry point suatu wilayah

Sama halnya dengan poin pertama, pada orang yang akan donor darah atau berpergian, cenderung orang yang tidak memiliki gejala, sehingga pemeriksaan antigen kurang bermanfaat, karena hasil non reaktif tidak dapat dijadikan patokan untuk mengambil tindak lanjut berikutnya.

Penggunaan RT antigen dan RT antibodi secara simultan : Mungkinkah?
Hari ini pemanfaatan rapid test antibodi sebagai metode skrining diberbagai kepentingan, baik medis maupun non medis, menjadi hal yg lumrah dilakukan. Namun sayangnya, secara teori dan berbagai penelitian, menyebutkan bahwa rapid test antibodi tidak seharusnya menjadi alat skrining, apalagi alat diagnosis. Sehingga penggunaan nya untuk berbagai kepentingan merupakan kesalahan dalam penempatan testing (Gambar 3).

Gambar 3 : Metode skrining hanya dengan tes antibodi tetap beresiko menularkan kepada orang lain

Penggunaan RT antibodi masih dapat dipertimbangkan apabila digunakan bersamaan dengan RT antigen, terutama jika fasilitas PCR/TCM sulit dijangkau, atau membutuhkan hasil yang sangat cepat karena akan memengaruhi keputusan klinis dan tindak lanjut pasien. Diharapkan dengan penggunaan RT antigen dan RT antibodi secara simultan, dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifitasnya sehingga hasil pemeriksaan lebih akurat. (Gambar 4).

Jika menggunakan algoritma diatas, maka masih dimungkinan penggunaan Rapid Antigen beserta Rapid Antibodi untuk skrining massal, seperti misalnya untuk skrining masuk pesantren, skrining perjalanan, skrining pasien, dan seterusnya. Namun, jika hanya salah satu yang digunakan, maka hasil pemeriksaannya tidak dapat dijadikan patokan, baik hasil yang reaktif maupun yang non reaktif. Sekian, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh : dr. Elvia Rahmi Marga Putri
Disarikan dari : Pemaparan dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, Ph.D dalam Webinar “The Role of Rapid Antigen Testing in The Covid-19 Pandemic”

https://www.freepik.com/vectors/background’>Background vector created by GarryKillian – www.freepik.com

Pin It on Pinterest

Share This