+62 331 337877 fk@unej.ac.id

Tragedi Bhopal, 2-3 Desember 1984.

Di pagi itu, sinar matahari hangat yang mulai memasuki jendela rumah, menemani saya untuk menghidupkan TV dan menonton National Geographic channel. Saya cukup terkejut dan terus menyimak film dokumenter yang sedang berlangsung pada saat itu karena mengingatkan saya dengan visi misi FK UNEJ sebagai pusat agromedis 2025. Apa film dokumenter tersebut? Apa yang terjadi pada film tersebut dan mengapa sangat menarik?

Judul film tersebut adalah Bhopal Disaster, 2-3 Desember 1984.

Diceritakan bahwa kejadian tersebut berlokasi di Bhopal, Madhya Pradesh, India. Tragedi tersebut merupakan peristiwa yang sangat memilukan. Kejadian itu dimulai dengan adanya kebocoran gas yang berasal dari tanki penyimpan salah satu bahan pembuat pestisida Sevin berupa Metil Isosianat – MIC (yang merupakan zat antara dalam proses pembuatan karbaril) pada pukul 23.30 waktu setempat. Gas tersebut bocor dan memasuki pipa utama pembuangan yang berakhir pada udara lingkungan pabrik.

Gas tersebut kemudian menyebar mengikuti arah hembusan angin hingga ke radius kurang lebih 7 KM. Di area tersebut terdapat kurang lebih 700.000 jiwa. Gas yang menyebar kemudian turun dan terhirup oleh seluruh warga. Gas tersebut menyebabkan mata perih, batuk, sesak nafas hingga kematian. Seluruh warga yang mengalami gejala segera berlarian dan berhamburan keluar rumah meninggalkan rumah mereka. Beberapa orang berhasil sedangkan yang lainnya terinjak-injak, dan beberapa meninggal di tempat. Semua klinik dan RS pada malam itu penuh dengan pasien-pasien. Seluruh dokter dan tenaga medis juga panik dan kebingungan mengenai penanganannya. Sehingga beberapa pasien masih dapat bertahan hidup dan sebagian lainnya meninggal dunia.

Akibatnya, hanya dalam waktu semalam, kurang lebih terdapat 3000 orang meninggal, 500.000 orang cedera dan 3000 orang cedera berat dan permanen. Setelah penyelidikan oleh beberapa pakar, ditemukan penyebab yang sangat tidak terduga. Apa itu? hanya sedikit kebocoran air dan bahan anorganik yang masuk melalui pipa penyimpanan. Namun, tidak sampai disitu. Hal yang tak terduga, penyebab kejadian tersebut terjadi pada 1 tanki, padahal pabrik masih menyimpan 2 tanki dengan bahan yang sama (MIC). Setelah pertimbangan beberapa ahli dan pemerintah menyatakan bahwa kedua tanki lainnya harus segera dikosongkan. Dengan apa? dengan cara membuka pabrik dan mengoperasikan proyek kembali, dengan pertimbangan, hasil produk tersebut jauh lebih stabil dibandingkan bahan antaranya. Kebijakan tersebut otomatis menuai kontroversi di khalayak publik. Namun dengan pertemuan, komunikasi dan pertimbangan yang sangat matang, proyek pembukaan pabrik kembali diterima. Pelaksanaan proyek tersebut dilengkapi dengan prosedur super ketat dan keamanan super ketat. Namun hampir seluruh warga tersebut akhirnya mengungsi ke kota lain, sehingga pada waktu itu, Bhopal menjadi kota sunyi. Di akhir cerita, seluruh proses dapat berjalan dengan baik dan warga diinformasikan dapat kembali ke rumah masing-masing.

Yang mungkin dapat dipetik dari cerita ini adalah: Kita sebagai orang awam sekaligus akademisi wajib selalu berpikir kritis mengenai segala efek samping, dan kemungkinan-kemungkinan terburuk mengenai segala produk yang kita gunakan sendiri atau ke orang lain, dan juga produk yang kita produksi. Tidak hanya pestisida namun juga produk lain, misalnya saja dari yang berbentuk sederhana seperti pena/ bolpoin hingga ke bentuk kompleks seperti obat-obatan. Apa yang perlu dicermati? Mulai dari bahan dasarnya, pelarutnya, proses pemakaian, mungkin juga orisinalitasnya, expired datenya, hingga pengolahan limbahnya, dan sebagainya, apakah aman kepada diri kita, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Selalu berpikir terbuka dan holistik dalam memandang dan memecahkan suatu masalah. Semoga cerita singkat ini memberikan inspirasi bagi kita semua. Salam sukses. Dion.

Bagi yang ingin menyimak cerita lengkapnya dapat diakses di youtube dengan alamat berikut.
Documentary The Bhopal Disaster INDIA Nat Geo
https://www.youtube.com/watch?v=HsuUQzhP2Ds

Penulis : Dion K Dharmawan

Pin It on Pinterest

Share This