+62 331 337877 fk@unej.ac.id

Perawatan luka bakar bukan merupakan suatu hal yang baru. Namun akan berbeda jika terjadi pada saat pandemi Covid-19 seperti saat ini. Karena dimasa pandemi maka kontak dengan penderita dianjurkan untuk dilakukan seminimal mungkin. Sehingga perlu pengetahuan khusus bagaimana cara merawat luka agar mempercepat proses penyembuhan lukanya, khususnya untuk tenaga medis. Terutama pada perawatan luka yang memerlukan tindakan yang berulang seperti luka kronis.

Luka merupakan kondisi hilangnya kuntinuitas epitel dengan atau tanpa jaringan ikat dibawahnya sehingga menimbulkan kerusakan fungsi kulit yang bisa disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya pembedahan, trauma tajam, luka bakar, bahan kimia, gesekan atau tekanan. Tenaga medis juga harus mengetahui fase penyembuhan luka, sehingga dengan mengetahui fase ini diharapkan dapat tahu dimana luka tersebut nantinya bermasalah. Fase tersebut terdiri dari: fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase remodelling. Selanjutnya adalah klasifikasi luka, menurut terminologi tradisional, luka terbagi menjadi luka akut dan luka kronik, namun pada terminology modern, luka terbagi menjadi luka sembuh (healing wound) dan luka tidak sembuh (chronic non healing wound).

Saat ini teori yang dipakai dalam merawat luka adalah perawatan luka lembab (moist), tujuannya dengan moist kita dapat mengurangi inflamasi, mengurangi infeksi, mengurangi fibrosis. Serta manfaat dari suasana moist ini adalah meningkatkan aktivitas leukosit, meningkatkan kecepatan penyembuhan luka, meningkatkan kualitas jaringan parut. Jadi prinsipnya, jika menemui luka kering harus dibuat lembab, bila menemui luka basah juga harus dibuat lembab agar mendapat hasil yang optimal dalam penyembuhannya. Untuk bisa menangani luka, yang pertama harus dilakukan adalah penilaian terhadap luka (apa penyebab luka, sudah berapa lama luka tersebut dialami, dan apa saja yang sudah dilakukan atau diberikan), selanjutnya preparasi atau persiapan perawatan luka tersebut, selain itu yang tak kalah pentingnya adalah dressing untuk memfasilitasi penyembuhan luka, dan yang terakhir adalah penutupan luka (baik menutup secara primer, sekunder, atau dibantu dengan pembedahan). Yang tak kalah penting dari langkah-langkah tersebut adalah optimalisasi faktor penyembuhan lukanya baik lokal maupun sistemik. Faktor local terdiri dari: adakah infeksi luka, adakah jaringan mati, atau adakah sisa perdarahan, sedangkan faktor sistemik adalah status gizi, usia, penyakit kronis, dan sistem imun. Apabila kedua faktor ini tidak dapat kita kendalikan maka akan mengganggu proses penyembuhan dan dapat menyebabkan komplikasi.

Menurut Prof. David Perdana Kusuma, masalah luka umumnya hanya ada tiga, yaitu infeksi, nekrotik, dan eksudat. Dengan mengetahui permasalahan luka tersebut membuat kita lebih efektif dalam perawatan luka dan mempercepat proses penyembuhan lukanya. Misal terdapat infeksi maka yang pertama dilakukan adalah berikan antibotik dulu, supaya lebih sehat jaringannya, bila ada jaringan mati (nekrotik) artinya harus dibuang dengan cara debridement, dan bila terdapat cairan (eksudat) artinya cairannya harus diserap (absortif). Selain itu yang tak kalah penting adalah dressing, dressing disini bermanfaat selain itu melindungi dan menutup luka juga untuk menjaga agar luka tetap dalam kondisi moist/lembab. Dalam proses perawatan luka, yang tidak boleh ditinggalkan adalah evaluasi dari setiap tindakan. Apakah penilaian terhadapa luka yang kita lakukan sudah tepat atau tidak, apakah langkah-langkah perawatan luka yang kita lakukan sudah tepat.

Sehingga kesimpulan dari proses perawatan luka ini adalah kenali tiga problem utama luka yaitu infeksi, nekrotik, dan eksudat. Dalam melakukan perawatan luka harus sesuai jenis problem lukanya. Selain itu dalam melakukan perawatan luka dianjurkan menganut konsep moist, karena dengan demikian diharapkan kita bisa membantu pasien untuk merawat luka secara optimal. Pemaparan lebih lengkap bisa menonton materi ini di Channel Youtube FK UNEJ di https://www.youtube.com/watch?v=W2paIbGknmQ.

Oleh: Adistha EN

Narasumber: dr. Ulfa Elfiah, M.Kes., Sp.BP-RE (K)